Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Resensi × Resensi Buku
"Buatlah Renacana Hidupmu Sendiri, Atau Selamanya Menjadi bagian Dari Rencana Orang Lain"
Judul : The Magic of Dream BookPenerbit : TransMedia Pustaka
Penulis : Rangga Umara
Tebal : xii + 196 Hal
Resolusi : 17 cm x 18 cm
Kategori : Motivasi dan Pengembangan Diri
“Tidak pernah ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah upaya yang tak setinggi cita-cita”
Berawal dari kicauan-kicauan @RanggaUmara di twitter yang berisi tentang perjalannya membangun usaha, motivasi dan bagaimana caranya memaknai arti sebuah kehidupan, akhirnya buku The Magic of Dream Book ini pun lahir.
Dengan gaya bahasa yang ringan dan sederhana, Rangga mampu menyederhanakan berbagai teori yang tadinya dianggap rumit, menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami. Buku ini sendiri terdiri dari delapan chapter. Mulai dari perjalanannya membangun usaha dari nol, hingga berhasil mengembangkan usaha pecel lelenya menjadi berskala nasional lebih dari 60 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Di segmen ini, ada hal unik yang sangat jarang pembaca temukan di beberapa buku motivasi lainnya.
Kedelapan chapter ini, Rangga menceritakan kisah hidupnya dengan mengambil sudut pandang ketiga, yaitu Dia. Alasannya cukup simpel, dirinya hanya ingin berbagi tanpa bermaksud menggurui. Serta sekedar mengingatkan dirinya untuk senantiasa tidak melupakan mimpi-mimpinya.
Resensi × Resensi Buku
Kick Andy selalu memiliki cerita berkualitas yang menginspirasi di tiap episode. Seperti buku sebelumnya, buku ini merangkum episode-episode inspiratif dari Kick Andy. Wajib dibaca :D
Judul Buku : Kick Andy | Kumpulan Kisah Inspiratif 2
Penulis : Tim Penulis Kick Andy
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 273 Halaman
Harga : Rp. 49.000
ISBN : 9786028811163
Setelah sukses dengan buku pertsma, Kick Andy akhirnya mengeluarkan buku lanjutan dengan judul Kumpulan Kisah Inspiratif 2. Memang buku ini tidak ditulis langsung oleh Andy F Noya selaku host acara talk show paling digemari itu, tapi nama seperti Tasaro sebagai tim penyusun buku ini sudah pasti menjadi jaminan mutu.
Buku ini dibagi menjadi beberapa kategori kisah yaitu :
1. Demi Hari Esok Lebih Baik
2. Lepas dari Belenggu Keterbatasan.
3. Menerjang Jalan Terjal Pendidikan
4. Mereka Bicara Apa Adanya
5. Selamatkan Bumi!
6. Atas Nama Negeri Tercinta
Dengan membaca buku ini saja kita sudah banyak sekali merasa tergugah akan episode demi episode yang ditayangkan Kick Andy. Semoga dengan buku ini semakin banyak lagi yang terinspirasi untuk berbuat ‘sesuatu’ bagi keluarga, orang lain, masyarakat dan negara.
Judul Buku : Kick Andy | Kumpulan Kisah Inspiratif 2Penulis : Tim Penulis Kick Andy
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 273 Halaman
Harga : Rp. 49.000
ISBN : 9786028811163
Setelah sukses dengan buku pertsma, Kick Andy akhirnya mengeluarkan buku lanjutan dengan judul Kumpulan Kisah Inspiratif 2. Memang buku ini tidak ditulis langsung oleh Andy F Noya selaku host acara talk show paling digemari itu, tapi nama seperti Tasaro sebagai tim penyusun buku ini sudah pasti menjadi jaminan mutu.
Buku ini dibagi menjadi beberapa kategori kisah yaitu :
1. Demi Hari Esok Lebih Baik
2. Lepas dari Belenggu Keterbatasan.
3. Menerjang Jalan Terjal Pendidikan
4. Mereka Bicara Apa Adanya
5. Selamatkan Bumi!
6. Atas Nama Negeri Tercinta
Dengan membaca buku ini saja kita sudah banyak sekali merasa tergugah akan episode demi episode yang ditayangkan Kick Andy. Semoga dengan buku ini semakin banyak lagi yang terinspirasi untuk berbuat ‘sesuatu’ bagi keluarga, orang lain, masyarakat dan negara.
Resensi × Resensi Buku
Judul: Batavia, Masyarakat Kolonial Abad XVII
Penulis: Henderik E Niemeijer
Penerbit: Masup Jakarta
Terbit: Juli, 2012
Halaman:
Harga: Rp. 180.000 (hard cover)
Penulis: Henderik E Niemeijer
Penerbit: Masup Jakarta
Terbit: Juli, 2012
Halaman:
Harga: Rp. 180.000 (hard cover)
Memahami Jakarta
pada masa kolonial yang kala itu masih disebut Batavia memang menarik.
Pasalnya, dari situlah kita dapat melihat dimensi-dimensi sosiologis-politis
yang kemudian membentuk Jakarta masa kini. Buku ini rasanya adalah salah satu
referensi yang dapat menambah derajat pemahaman kita mengenai dimensi-dimensi
tersebut.
Pada bagian awal
buku ini pembaca mungkin akan terperangah mengetahui bahwa Batavia pada abad 17
ternyata tidak lebih dari sebuah kota perbudakan. Kala itu perbudakan mendapat tempat yang subur karena
memiliki payung legalitas dari pemerintah kolonial. Penyebabnya pemerintah memiliki kepentingan untuk
menempatkan pekerja murah untuk mengembangkan Batavia menjadi kota dagang.
Akibatnya budak
tidak hanya didatangkan dari berbagai pulau di luar Jawa seperti Maluku,
Sulawesi atupun Bali, melainkan juga dari luar negeri seperti India, Srilanka,
hingga Filipina. Para budak ini kemudian diperjualbelikan oleh tuan-tuan
mereka. Di kemudian hari kedatangan para budak di batavia memunculkan masalah
kemasyarakatan tersendiri di Batavia, mulai dari pergundikan, kriminal, hingga
kekerasan (hal. 31-57).
Kemunculan budak
dan pendatang ke Batavia telah menjadikan kota ini sebuah kuali adukan (melting pot). Namun itu pun memunculkan
potensi gesekan. Kehadiran kelompok etnis Cina misalnya, telah memicu konflik
tersendiri. Salah satu yang tercatat dalam buku ini adalah kebiasaan berjudi
yang kerap berujung pada keributan. Akibatya pemerintah harus membatasi
perjudian.
Namun,
situasinya menjadi dilematis. Pasalnya, di satu sisi, pemerintah yang berkuasa
memperoleh pendapatan dari perjudian tersebut. Setiap rumah judi ataupun
pesta-pesta yang menyelenggarakan perjudian, diharuskan menyerahkan semacam
pajak kepada pemerintah Batavia.
Masalah lain
yang juga sering muncul ke permukaan pada abad 17 adalah konflik antar pemeluk
agama. Hal ini terjadi antara penganut Kristen dan Katolik. Kala itu para
pendeta Kristen terang-terangan menolak misi yang dijalankan oleh pemuka agama
Katolik. (hal. 239-254). Bahkan tanpa segan mereka menganggap ibadah ataupun
ritus yang dipimpin oleh pemuka Katolik dianggap ilegal.
Hal yang harus
dicatat mengenai hubungan antar pemeluk agama pada masa kolonial adalah
kenyataan Islam yang terus berkembang dan memegang peranan penting. Bahkan
kemudian pemerintah Hindia Belanda lebih membuka kesempatan untuk perkembangan
Islam ketimbang agama Katolik.
Pada halaman
217-220 bahkan disampaikan bahwa Islam tidak dianggap sebagai “bahaya”,
sebaliknya banyak ulama Islam yang dianggap dapat bekerja sama dengan
pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memiliki posisi khusus.
Hal berbeda dialami oleh praktik-praktik relijius
yang dilakukan oleh etnis Cina. Dalam buku ini praktik keagamaan yang dilakukan
oleh etnis Cina cenderung dianggap membuat keributan. Tidak mengherankan jika
pemerintah perlu untuk melarang kegiatan tersebut.
Buku ini menarik
untuk memahahami kehidupan masyarakat kolonial Batavia. Sayangnya, catatan yang
banyak didasarkan pada dokumen administrasi pemerintahan ini, tidak diformulasi
dengan cara yang lebih cair. Padahal cara yang lebih cair akan membuat pembaca
lebih asyik mengikuti “perjalanan ke masa lalu” ini.
Simak saja buku Semerbak Bunga di Bandung Raya (1998)
yang ditulis oleh Haryoto Kunto. Banyak
cerita dan fakta tentang Kota Bandung yang didasarkan pada literatur masa lalu,
namun disampaikan dengan cara yang “renyah”, menawan , dengan bumbu-bumbu yang
jenaka di sana-sini. Akhirnya, jadilah sebuah buku yang menarik untuk
dinikmati.***
Resensi × Resensi Buku
Judul: Likeable Social Media
Penulis: Dave Kerpen
Penerbit: Mc Graw Hill
Halaman: 260 halaman
Harga: US $ 20
Media
sosial itu seksi! Demikian sering disebut oleh para marketer. Bagaimana
tidak, dengan media sosial, para marketer dapat menjangkau target yang
sangat spesifik dengan biaya yang relatif lebih murah ketimbang media
tradisional seperti televisi.
Persoalannya, bagaimana seorang marketer harus menyusun strategi agar kampanye yang dilakukan lewat media sosial dapat memberikan efek yang positif.
Buku Likeable Social Media ini
memberikan semacam pedoman bagai mereka yang ingin menggunakan media
sosial seperti Facebook ataupun Twitter. Penulis buku ini, Dave Kerpen,
memberikan segudang tips agar sebuah produk mendapat respon yang baik
sehingga dapat memberikan efek viral yang sempurna.
Beberapa tips yang disampaikan dalam buku ini antara lain dengan memosisikan para dengan calon pelanggan. Ia harus dapat mengerti kemauan dan keinginan para calon konsumen.
Artinya, marketer harus dapat mendengar keinginan pelanggan. It's about listening! Begitu dikatakan oleh Dave Kerpen. Mendegarkan konsumen dan calon konsumen menjadi hal yang esensial. Konsumen harus didengarkan, baik pujian hingga cacian mengenai produk yang kita tawarkan.
Mengapa
demikian? Karena esensi dari media sosial marketing adalah mendengarkan
dan memberikan respon. Tanpa hal ini, sulit bagi marketer untuk
meningkatkan brand enggagemnet konsumen.
Nah, jika anda adalah peminat social media marketing, liriklah buku ini.
Resensi × Resensi Buku
![]() |
| Dari: Taschen.Com |
Judul: Chinese Propaganda Posters
Essay: Anchee Min, Duo Duo, dan Stefan R Landsberger
Penerbit: Taschen, Jerman, 2011
Halaman: 320 halaman
Harga; HK $ 128
Buku ini memang lebih
memiliki banyak gambar ketimbang teks. Namun gambar yang termuat di dalam
bukanlah gambar biasa. Gambar tersebut tak lain poster-poster propaganda Mao
Tse Tung ketika ia memgang kekuasaan di Cina.
Seperti halnya banyak pemegang kekuasaan, Mao pun ingin
mempertahankan statusnya sebagai pemimpin partai. Apalagi ia mencetuskan Revolusi
Kebudayaan di negeri itu hingga tahun 1970-an. Ia menyebutanya Great Leap.
Dari poster propaganda tersebut, Mao tidak hanya
mempopulerkan Revolusi Kebudayaan, melainkan juga berusaha untuk mengultuskan
dirinya. Usahanya boleh dibilang berhasil. Buktinya hingga kini masih banyak
orang yang percaya dengan kebenaran ajaran Mao.
Dalam poster-poster yang termuat dalam buku ini, Mao
menggambarkan dirinya sebagai sosok yang dicintai oleh rakyatnya, dan dapat membawa Cina ke arah yang kebih baik,
Cina yang lebih makmur di bawah pemerintahan partai komunis.
Bahkan beberapa poster memperlihatkan pentingnya “melupakan”
kepentingan diri sendiri, bahkan nyawa, untuk kepentingan partai.
Tapi toh dari beberapa catatan litartur yang ada, usaha Mao
ternyata hanya isapan jempol. Usaha untuk memakmurkan Cina justru membawa
penderitaan bagi rakyat. Bagaimana tidak, ketika Mao berkuasa kemiskinan
semakin menjadi-jadi, kebebasan menjadi barang langka, dan tekanan terjadi
kepada mereka yang dianggap memiiki orientasi ke Barat.
Poster-poster yang ada dalam buku ini paling tiak menjadi
sebuah “monumen” yang mengingatkan kembali kepada siapa saja bahwa kekuasaan
cenderung melanggengkan diri, dengan menghalalkan segala cara.
Kekurangan buku ini, menurut hemat saya, tidak adanya sebuah
analisa yang memadai atas poster-poster tersebut. Poster-poster tersebut hanya
memiliki data seputar pembuatnya, judul, dan latar belakang dibuatnya poster
tersebut. Jika saja poster tersebut dilengkapi dengan kajian yang mendalam
dengan melibatkan metodologi tertentu, semisal semiotik, maka buku ini akan
menjadi lebih bernas.***
![]() |
| Salah satu contoh poster dalam buku, dari www.taschen.com |
![]() |
| Contoh poster lain dalam buku: www.taschen.com |
*) Catatan: buku ini diperoleh penulis dalam perjalanan
menuju Hong Kong pada bulan September 2012. Tidak ada catatan apakah buku dijual di Indonesia atau tidak. info: www.taschen.com
Resensi × Resensi Buku
Judul: Jurnalis Berkisah
Penulis: Yus Aryanto
Penerbit: Metagraf
Tahun: 2012
Tebal: 227 halaman
Harga: Rp. 47.000
Wartawan adalah profesi yang memiliki risiko tinggi. Intimidasi
serta ancaman kekerasan adalah hal yang mengintipnya setiap saat. Hanya
idealisme dan keterpanggilan yang membuat seorang juru berita bertahan dengan
profesi itu.
Menjabarkan semua itu dalam sebuah manuskrip yang teoritis hanya
akan menghasilkan sebuah pemahaman yang kering. Berbeda jika hal itu
dideskripsikan ataupun dituturkan si juru berita.
Itulah yang membuat buku ini menarik disimak sebagai sebuah teks
yang menggambarkan mozaik kecil jagat jurnalistik, khususnya di Indonesia. Dari
sini pembaca tidak hanya mencerap ikhwal kerja jurnalistik, melainkan juga
berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.
Buku yang menceritakan kembali pengalaman para wartawan memang bukan
barang baru. Seperti dikutip dalam pengantar buku ini, pernah terbit buku Jagat
Wartawan Indonesia yang ditulis oleh Soebagijo IN di tahun 1980-an. Pernah
juga terbit Pistol dan Pembalut Wanita yang merupakan antologi
pengalaman wartawan media cetak yang bertugas di Bandung di tahun 2007.
Namun yang membedakan Jurnalis Berkisah dengan buku-buku
tersebut ialah disertakannya satu ataupun dua "kasus", berkenaan
dengan profesi yang mereka jalani. Inilah yang membuat cerita mengenai para
wartawan ini semakin bernas.
Misalnya saja Mauluddin Anwar yang terbang ke Lebanon untuk
meliput perang yang terjadi di Beirut. Petikan kisah mereka saat berada di
medan pertempuran akan menjadi hal menarik tersendiri bagi pembaca.
Memakai sudut pandang para wartawan dari berbagai jenis media,
buku ini bagaikan sebuah representasi dunia media. Lihat saja, di dalamnya ada
penuturan Najwa Shihab yang mewakili televisi berita, Telni Rusmitantri yang
bergelut di tabloid hiburan, Tosca Santoso yang malang melintang di jurnalisme
radio, Erwin Arnada yang pernah memimpin Palyaboy Indonesia, ataupun Linda
Christanty yang membangun sindikasi Aceh News Service.
Satu hal yang mengikat kesepuluh jurnalis dalam buku ini, yakni
kesetiaan pada profesi dan kebenaran. Memang ada petikan kisah-kisah heroik dari para wartawan
tersebut. Namun itu bukan titik sentral, namun sebagai pintu masuk pada
persoalan yang lebih besar.
Memang, juru berita adalah manusia biasa. Mereka memiliki
ketakutan, mereka sempat gentar, pernah terpojokkan. Sebut saja kutipan kisah
Linda Christanty yang sempat merasa ragu ketika mendapat tawaran untuk untuk
tinggal di Aceh. Memang, Aceh sebagai medan konflik bukanlah tempat yang
dimimpikan banyak orang. Tapi toh semua itu
ditepisnya. Kepedulianlah yang membawanya terbang ke Aceh.
Benar saja, ketika tiba di Serambi Mekkah, banyak hal yang dapat
dilakukan oleh Linda. Memberikan penyadaran melalui berbagai medium adalah hal
yang diupayakannnya. Termasuk memberdayakan banyak orang muda untuk berbuat
lebih banyak bagi Aceh lewat dunia jurnalistik.
Lewat buku ini pembaca tidak hanya akan menjumpai romantisme dunia
jurnalistik, melainkan kompleksnya dunia jurnalistik terutama ketika ia
berbenturan dengan berbagai kepentingan. Di sini neralitas dan keberpihakan
harus mencari bentuknya kembali.***
Resensi × Resensi Buku
Judul : Sepanjang
Hayat Bersama Rakyat
Penulis : Tim Kompas
Editor : Julius Pour
dan Nur Adji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit : I, April
2012
Halaman : xii + 347
Halaman
Problema utama
historiografi ialah subjektivitas. Inilah menyebabkan historiografi cenderung
tampil sebagaimana diinginkan oleh penulisnya dengan mengabaikan
evidensi-evidensi objektif.
Cara memandang peristiwa
sejarah yang keliru, orientasi penulisan yang sentralitis, serta berbagai
tarikan kepentingan, cenderung menghasilkan sebuah sejarah yang mistifikatif.
Oleh karena itu, pelurusan sejarah menjadi sesuatu yang tidak boleh dihindari.
Begitu pula
dengan sejarah Serangan Umum (SU) 11 Maret 1949 di Yogyakarta yang dilakukan
oleh tentara gerilya. Peristiwa ini menjadi kontroversial karena berbagai
tulisan sejarah memiliki versi yang berbeda-beda mengenai subjek penggagas
serangan tersebut.
Banyak literatur
menyebutkan, SU digagas oleh Letkol Soeharto, yang kelak menjadi presiden
Republik Indonesia. Namun kemudian bantahan muncul yang menyebutkan bahwa
peristiwa yang terjadi di Yogyakarta itu adalah inisiatif Sultan Hamengku
Bowono IX.
Perbedaan itulah
yang banyak dibahas pada bagian awal buku ini. Berbagai kutipan serta pandangan
dari pelaku maupun ahli sejarah disampaikan untuk memberikan perspektif yang
berbeda, terkait dengan SU.
Dari tulisan yang
ada, seakan ingin ditegaskan bahwa Sultan Hamengku Buwono IX-lah yang pertama-tama
melihat arti strategis SU bagi eksistensi bangsa Indonesia. Itu sebabnya ia
kemudian meminta Letkol Soeharto untuk mengomandoi sebuah operasi yang
dicetusnya.
Ketika peristiwa
sejarah ini diputarbalikkan, Sultan tidak banyak berkomentar. Penyebabnya, ia tidak memiliki ambisi untuk dikenang dalam
sejarah. Kepentingannya hanya satu yakni kepentingan rakyat.
Selain itu, buku
ini juga ingin mempertegas posisi Sultan Hamengku Buwono IX. Baik perannya
dalam sejarah bangsa Indonesia, maupun posisinya di hati rakyat. Apalagi Sultan
dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Dalam buku ini
diungkapkan sebagian kecil hal yang telah dilakukan oleh Sultan pada masa-masa
awal berdirinya Republik Indonesia. Misalnya saja Sultan mempersilakan pusat
pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Sultan juga menyumbangkan harta Keraton Yogyakarta untuk
membiayai penyelenggaran pemerintahan Republik Indonesia.
Dengan demikian,
wacana untuk meniadakan keistimewaan Yogyakarta adalah hal yang ahistoris.
Sebagai bangsa yang besar, tidak pantas rasanya menghilangkan ataupun melupakan
sejarah.
Bukan hanya
kisah besar mengenai Sultan yang diungkapkan dalam buku ini, melainkan juga
kisah-kisah human interest yang memperlihatkan
karisma dan kesederhanaan seorang Raja Jawa.
Misalnya, ketika
Sultan berkunjung ke New York. Suatu kali, di tengah perjalanan kembali ke
hotel, ia meminta Joop Ave, yang bertugas sebagai konsul di Konjen RI di New
York, meninggalkannya tanpa pengawalan
untuk berjalan-jalan dan berbelanja di
Bloomingdale Department Store.
Joop Ave yang
saat itu ditugasi menemani Sultan tidak dapat berbuat banyak. Ia pun
meninggalkan Sultan sendirian dengan cemas.
Buku yang
diterbitkan untuk mengenang 100 tahun
Sultan Hamengku Buwono IX ini kembali mengingatkan kita, bahwa pemimpin sejati
adalah pemimpin yang mengayomi dan mendengarkan rakyat. Hanya dengan cara itu
ia dicintai dan selalu memiliki tempat di hati rakyat.***
Resensi × Resensi Buku

Judul: Peranakan Tionghoa di Indonesia
Penulis: Iwan Santosa
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tebal: xx+ 316 halaman
Tebit: Juni, 2012
Eksistensi etnis
Tionghoa memiliki tempat tersendiri dalam sejarah bangsa Indonesia. Mereka tidak hanya memiliki andil dalam
pertumbuhan dan perkembangan masyarakat,
melainkan juga berkontribusi bagi pergerakan bangsa Indonesia menuju
kemerdekaan.
Pertanyaannya,
bagaimana eksistensi etnis Tionghoa dalam konteks kekinian? Pertanyaan ini
diajukan karena etnis Tionghoa masih memiliki identitas kultural yang tidak
mungkin lenyap begitu saja.
Seperti halnya
identitas Jawa yang tidak bakal hilang ketika seorang Jawa melebur dalam kenyataan
Indonesia. Sama halnya dengan identitas Padang yang tidak bakal hilang ketika orang
Padang menyatakan diri menjadi anak sah dari Indonesia.
Artinya, memperbincangkan
keberadaan etnis Tionghoa tetap menarik meskipun sesungguhnya dalam entitas
Indonesia, tidak ada lagi identitas mayoritas ataupun minoritas,yang ada
hanyalah identitas Indonesia.
Buku mencoba untuk memberikan sebuah gambaran
umum mengenai kondisi masyarakat Tionghoa kontemporer. Tidak hanya terbatas
pada etnis Tionghoa yang berada di perkotaan,
namun juga keturunan Tionghoa yang berada di pinggiran, misalnya saja
mereka yang disebut dengan Cinta Benteng yang bermukim di Tangerang, Banten.
Keberadaan warga
Cina Benteng mematahkan anggapan umum bahwa
keturunan Tionghoa selalu hidup berkecukupan. Warga Cinta Benteng justru
sebaliknya. Mereka tidak berbeda dengan warga marjilan pada umumnya yang selalu tersisihkan, terancam
penggusuran, bahkan sering menerima tindakan-tindakan diskriminatif.
Konteksnya tentu
bukan soal tuntutan privelese bagi keturunan etnis Tionghoa, namun tuntutan
untuk dihargai, diperlakukan, dan diberikan hak yang sama seperti warga
Indonesia lainnya. Toh pada dasarnya mereka sudah turun-temurun berada di
Indonesia, menghirup udara Indonesia, dan bahkan melalukan kewajiban sebagai
warga negara pada umumnya.
Buku ini juga
seperti ingin memperlihatkan betapa tidak ada alasan untuk mempraktikkan
diskriminasi terhadap masyarakat keturunan Tionghoa. Apalagi sejak jauh-jauh
hari mereka mencoba mempraktikkan akulturasi. Perlakukan diskriminatif hanya
akan membuat jurang yang kian menganga antar etnis.
Tidak hanya
memotret keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa di Jakarta, buku ini juga
mengungkapkan sisi kehidpan etnis Tionghoa di wilayah lain di di
Indonesia, seperti di Semarang,
Yogyakarta, Simgkawang, Padang hingga Aceh.
Dari Semarang
buku ini melaporkan Pecinan Semarang yang tidak pernah mati. Salah satunya
adalah Jalan Semawis yang selalu diramaikan oleh gerai-gerai kuliner di malam
hari. Keramaiannya memuncak terutama pada malam minggu.
Jalan Semawis
bukan sekadar tempat wisata kuliner, melainkan juga simbol geliat keguyuban
masyarakat keturunan Tionghoa di kota itu. Seperti ingin diperlihatkan bahwa masyarakat
Tionghoa masih hidup dan tetap dapat hidup berdampingan dengan warga Semarang
lainnya.
Pendeknya buku
ini ingin menunjukkan serbaneka kehidupan masyarkat keturunan Tionghoa di
Indonesia. Meskipun tidak dapat mengungkapnya secara komprehensif, namun dari
sini kita dapat terbuka ruang-ruang perspektif untuk melihat bagaimana masa
depan masyarakat keturunan Tionghoa dan identitas keindonesiaan.***






