Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Resensi × Resensi Film
The Fighter
menyuguhkan hiburan yang bagus dari awal sampai akhir dan memuat 2
penampilan brilian yang bisa dianggap salah satu yang terbaik sepanjang
2010. Lingkungan kelas pekerja di Lowell, Massachusetts, diwujudkan
secara detil, dan Mark Wahlberg, sebagai petinju kelas welter Micky Ward
(tokoh ini memang benar-benar ada), menjadi pusat simpati penonton.
Rasanya, semua yang menonton The Fighter akan berpendapat bahwa ini
adalah film yang berkualitas.
Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.
Ibu dan Dicky adalah benalu, mereka hidup dari penderitaan dan rasa sakit Micky. Mereka bersatu untuk memanfaatkan Micky. Ini adalah penekanan dari penampilan Bale dan Leo. Walaupun berada di sudut Micky saat pertarungan, mereka bukanlah tim yang baik untuk Micky.
Sang ibu dan Dicky adalah tokoh antagonis di film ini dan bukanlah para petinju yang menjadi lawan Micky. Jadi wajar jika Bale dan Leo seharusnya menampilkan sosok monster yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Leo kehilangan aura kesungguhan dan hanya menampilkan karakter bom seks yang bisa bertahan di dunia laki-laki. Bale menyuguhkan penampilan yang cantik. Dengan menurunkan 30 pounds berat badannya, dia menampilkan Dicky yang merasa dirinya adalah jagoan penguasa lingkungan. Penampilan apik Bale datang dari observasi yang baik serta ketepatan secara fisik dan psikologis.
Sepanjang film, hanya 1 orang yang mendukung Micky. Dia adalah sang kekasih Charlene (Amy Adams). Walaupun menyenangkan, peran ini tidak memberi kesempatan bagi Adams untuk tampil menonjol.
Wahlberg menampilkan karakter yang membuat kita peduli padanya dan bertanya-tanya,"Apakah dia akan menjadi laki-laki sejati dan menegaskan sikapnya?" Sebaliknya, kita tidak akan bertanya,"Akankah dia menjadi juara?" karena memang pertanyaan ini menjadi tidak penting. Adalah usahanya untuk menjadi pria mandiri dan lepas dari kungkungan ibunya dan Dicky, dan bukannya pertarungan di ring yang menjadi highlight The Fighter.
Pada titik inilah, film menjadi tidak jujur. Skenario film berdasar kehidupan nyata sebaiknya berdasar pada fakta yang benar-benar terjadi. Tetapi, The Fighter mengkhianati anggapan ini dengan melakukan interpretasi yang didesain untuk menyenangkan orang-orang yang dipotret di film ini. Akibatnya, ada perpindahan fokus cerita dari karakter Micky ke karirnya sebagai petinju, lalu seolah-seolah The Fighter bercerita tentang perjalanan karir Micky semata. Perpindahan ini fokus ini cukup membuat kita mengernyitkan kening.
Sutradara : David O. Russell
Skenario : Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson
Pemain : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.
Ibu dan Dicky adalah benalu, mereka hidup dari penderitaan dan rasa sakit Micky. Mereka bersatu untuk memanfaatkan Micky. Ini adalah penekanan dari penampilan Bale dan Leo. Walaupun berada di sudut Micky saat pertarungan, mereka bukanlah tim yang baik untuk Micky.
Sang ibu dan Dicky adalah tokoh antagonis di film ini dan bukanlah para petinju yang menjadi lawan Micky. Jadi wajar jika Bale dan Leo seharusnya menampilkan sosok monster yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Leo kehilangan aura kesungguhan dan hanya menampilkan karakter bom seks yang bisa bertahan di dunia laki-laki. Bale menyuguhkan penampilan yang cantik. Dengan menurunkan 30 pounds berat badannya, dia menampilkan Dicky yang merasa dirinya adalah jagoan penguasa lingkungan. Penampilan apik Bale datang dari observasi yang baik serta ketepatan secara fisik dan psikologis.
Sepanjang film, hanya 1 orang yang mendukung Micky. Dia adalah sang kekasih Charlene (Amy Adams). Walaupun menyenangkan, peran ini tidak memberi kesempatan bagi Adams untuk tampil menonjol.
Wahlberg menampilkan karakter yang membuat kita peduli padanya dan bertanya-tanya,"Apakah dia akan menjadi laki-laki sejati dan menegaskan sikapnya?" Sebaliknya, kita tidak akan bertanya,"Akankah dia menjadi juara?" karena memang pertanyaan ini menjadi tidak penting. Adalah usahanya untuk menjadi pria mandiri dan lepas dari kungkungan ibunya dan Dicky, dan bukannya pertarungan di ring yang menjadi highlight The Fighter.
Pada titik inilah, film menjadi tidak jujur. Skenario film berdasar kehidupan nyata sebaiknya berdasar pada fakta yang benar-benar terjadi. Tetapi, The Fighter mengkhianati anggapan ini dengan melakukan interpretasi yang didesain untuk menyenangkan orang-orang yang dipotret di film ini. Akibatnya, ada perpindahan fokus cerita dari karakter Micky ke karirnya sebagai petinju, lalu seolah-seolah The Fighter bercerita tentang perjalanan karir Micky semata. Perpindahan ini fokus ini cukup membuat kita mengernyitkan kening.
Sutradara : David O. Russell
Skenario : Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson
Pemain : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Resensi × Resensi Film
Adalah berlebihan untuk mengharapkan inspirasi dalam The Green Hornet
.
Tak ada apapun di sini kecuali strategi dan konsep pemasaran serta
merchandising yang bagus. Tak ada ide-ide segar yang muncul. Skenarionya
ditulis Seth Rogen dan Evan Goldberg berdasarkan acara radio zaman
dulu. Walaupun kita merasa mereka sudah berusaha keras, hasilnya adalah
cerita yang berantakan, lemah secara konsep, dan tidak ada interest yang
mengakar walaupun banyak dialog yang menyegarkan.
Sutradara Michel Gondry seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa membuat film bagus dengan materi cerita yang kurang bagus. Tak banyak yang bisa dia lakukan kecuali mengusahakan yang terbaik dengan materi pas-pasan dengan cara mengoptimalkan
visual. Tetapi tidak banyak yang bisa dia lakukan dengan ceritanya dan juga karakter-karakter yang justru menjadi halangan baginya.
Rogen juga bermain sebagai Britt, playboy manja yang mewarisi sebuah surat kabar dan kerajaan media ketika ayahnya (Tom Wilkinson) meninggal. Britt melewatkan masa berkabung bersama temannya Kato (Jay Chou), mantan mekanik sang ayah, dan mereka lantas menyelamatkan sepasang sejoli dari genk jalanan. Inilah saat Britt mendapat ide untuk menjadi superhero - melakukan hal baik sambil melestarikan image penjahat - image yang dipromosikannya di korannya.
Sementara, penjahat sesungguhnya adalah seorang mafia Eropa Timur yang menguasai semua aktivitas ilegal di kota itu. Mafia ini dimainkan oleh Christoph Waltz yang di film ini diperkenalkan dalam sebuah scene yang sangat memuaskan. Waltz muncul di klub malam untuk berbicara dengan pemiliknya, yang telah menciptakan bisnis kristal meth tanpa memberikan sang mafia bagiannya. Sekarang, dia menagih bagiannya dan ternyata ditertawakan oleh sang pemilik klub.
Permasalahan film ini adalah komitmen Rogen dan Goldber untuk menampilkan gagasan bahwa Britt adalah seorang idiot yang komikal. Ini menjadi batasan bagi karakter dan film secara keseluruhan. Karakter Britt hanya ditampilkan sebagai pewaris harta yang dungu, bisa dibilang sebuah parodi dari pewaris kekayaan maha dahsyat. Saat tiba saatnya kekerasan, tidak ada yang peduli dengan sosoknya - selain dungu - juga manja.
Sutradara : Michel Gondry
Skenario : Seth Rogen, Evan Goldberg
Pemain : Seth Rogen, Jay Chou, Christoph Waltz
Sutradara Michel Gondry seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa membuat film bagus dengan materi cerita yang kurang bagus. Tak banyak yang bisa dia lakukan kecuali mengusahakan yang terbaik dengan materi pas-pasan dengan cara mengoptimalkan
visual. Tetapi tidak banyak yang bisa dia lakukan dengan ceritanya dan juga karakter-karakter yang justru menjadi halangan baginya.
Rogen juga bermain sebagai Britt, playboy manja yang mewarisi sebuah surat kabar dan kerajaan media ketika ayahnya (Tom Wilkinson) meninggal. Britt melewatkan masa berkabung bersama temannya Kato (Jay Chou), mantan mekanik sang ayah, dan mereka lantas menyelamatkan sepasang sejoli dari genk jalanan. Inilah saat Britt mendapat ide untuk menjadi superhero - melakukan hal baik sambil melestarikan image penjahat - image yang dipromosikannya di korannya.
Sementara, penjahat sesungguhnya adalah seorang mafia Eropa Timur yang menguasai semua aktivitas ilegal di kota itu. Mafia ini dimainkan oleh Christoph Waltz yang di film ini diperkenalkan dalam sebuah scene yang sangat memuaskan. Waltz muncul di klub malam untuk berbicara dengan pemiliknya, yang telah menciptakan bisnis kristal meth tanpa memberikan sang mafia bagiannya. Sekarang, dia menagih bagiannya dan ternyata ditertawakan oleh sang pemilik klub.
Permasalahan film ini adalah komitmen Rogen dan Goldber untuk menampilkan gagasan bahwa Britt adalah seorang idiot yang komikal. Ini menjadi batasan bagi karakter dan film secara keseluruhan. Karakter Britt hanya ditampilkan sebagai pewaris harta yang dungu, bisa dibilang sebuah parodi dari pewaris kekayaan maha dahsyat. Saat tiba saatnya kekerasan, tidak ada yang peduli dengan sosoknya - selain dungu - juga manja.
Sutradara : Michel Gondry
Skenario : Seth Rogen, Evan Goldberg
Pemain : Seth Rogen, Jay Chou, Christoph Waltz
Resensi × Resensi Film
Breach
disutradarai oleh Billy Ray, yang juga menulis Flightplan dan
menyutradarai Shattered Glass. Diangkat dari kisah nyata tentang
penerobosan intelijen paling hebat dalam sejarah Amerika, film ini
melacak peristiwa-peristiwa yang mengarah ke penahanan agen FBI yang
berdedikasi dan bereputasi bagus, Robert Hanssen (Chris Cooper). Hanssen
melakukan pengkhianatan kepada negaranya dengan menjual rahasia negara
kepada Uni Soviet.
Agen FBI yang masih berstatus rookie, Eric O'Neill (Ryan Phillipe), ditugaskan untuk menyamar di dalam FBI untuk menangkap Hanssen. Di permukaan, Hansen adalah agen yang tangguh, tidak kenal basa-basi, dan takut pada Tuhan. Tetapi, di dalam dirinya, tersimpan sosok sinis yang amat jauh berbeda dengan kesan di permukaan. O'Neill bertugas untuk mengumpulkan lebih banyak bukti untuk mendakwa Hanssen.
Film ini adalah adu pintar antara agen intelijen dengan sisipan kesalahpahaman dalam keluarga O'Neill. Saat O'Neill berjuang untuk mendapat kepercayaan dari Hanssen, dia juga mendapat tentangan dari istrinya yang tidak paham tentang sensitivitas pekerjaannya di kantor. Di sinilah muncul konflik antara keluarga dan misinya.
Jika anda menyukai film spy thrillers, maka anda harus bersabar saat film perlahan membangun ceritanya. Bagaimanapun, tetaplah menyenangkan menyaksikan film ini berkembang setahap demi setahap walaupun anda pasti bisa menebak arah ceritanya.
Chris Cooper menyuguhkan penampilan yang luar biasa sebagai Robert Hanssen yang kharismatis. Anda akan menyukai saat-saat dia membimbing O'Neill dengan ego dan kesombongannya sebagai veteran, menjelaskan tentang politik FBI dan persaingan antar agen. Ryan Phillipe berhasil mengimbangi Cooper dengan tampil meyakinkan - kita bisa merasakan adrenalinnya terpacu saat harus mengumpulkan bukti tentang Hanssen. Laura Linney hanya mendapat sedikit peran tetapi cukup bisa menampilkan kejengkelan tentang keputusan yang diambil O'Neill.
Ada otentisitas yang terasa di Breach karena Eric O'Neill menjadi konsultan khusus. Jadi jika spy thrillers adalah favorit anda, jangan lewatkan Breach.
Sutradara : Billy Ray
Skenario : Adam Mazer, William Rotko, Billy Ray,
Pemain : Chris Cooper, Ryan Phillippe, Dennis Haysbert, Laura Linney
Agen FBI yang masih berstatus rookie, Eric O'Neill (Ryan Phillipe), ditugaskan untuk menyamar di dalam FBI untuk menangkap Hanssen. Di permukaan, Hansen adalah agen yang tangguh, tidak kenal basa-basi, dan takut pada Tuhan. Tetapi, di dalam dirinya, tersimpan sosok sinis yang amat jauh berbeda dengan kesan di permukaan. O'Neill bertugas untuk mengumpulkan lebih banyak bukti untuk mendakwa Hanssen.
Film ini adalah adu pintar antara agen intelijen dengan sisipan kesalahpahaman dalam keluarga O'Neill. Saat O'Neill berjuang untuk mendapat kepercayaan dari Hanssen, dia juga mendapat tentangan dari istrinya yang tidak paham tentang sensitivitas pekerjaannya di kantor. Di sinilah muncul konflik antara keluarga dan misinya.
Jika anda menyukai film spy thrillers, maka anda harus bersabar saat film perlahan membangun ceritanya. Bagaimanapun, tetaplah menyenangkan menyaksikan film ini berkembang setahap demi setahap walaupun anda pasti bisa menebak arah ceritanya.
Chris Cooper menyuguhkan penampilan yang luar biasa sebagai Robert Hanssen yang kharismatis. Anda akan menyukai saat-saat dia membimbing O'Neill dengan ego dan kesombongannya sebagai veteran, menjelaskan tentang politik FBI dan persaingan antar agen. Ryan Phillipe berhasil mengimbangi Cooper dengan tampil meyakinkan - kita bisa merasakan adrenalinnya terpacu saat harus mengumpulkan bukti tentang Hanssen. Laura Linney hanya mendapat sedikit peran tetapi cukup bisa menampilkan kejengkelan tentang keputusan yang diambil O'Neill.
Ada otentisitas yang terasa di Breach karena Eric O'Neill menjadi konsultan khusus. Jadi jika spy thrillers adalah favorit anda, jangan lewatkan Breach.
Sutradara : Billy Ray
Skenario : Adam Mazer, William Rotko, Billy Ray,
Pemain : Chris Cooper, Ryan Phillippe, Dennis Haysbert, Laura Linney
Resensi × Resensi Film
The Fighter
menyuguhkan hiburan yang bagus dari awal sampai akhir dan memuat 2
penampilan brilian yang bisa dianggap salah satu yang terbaik sepanjang
2010. Lingkungan kelas pekerja di Lowell, Massachusetts, diwujudkan
secara detil, dan Mark Wahlberg, sebagai petinju kelas welter Micky Ward
(tokoh ini memang benar-benar ada), menjadi pusat simpati penonton.
Rasanya, semua yang menonton The Fighter akan berpendapat bahwa ini
adalah film yang berkualitas.
Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.
Ibu dan Dicky adalah benalu, mereka hidup dari penderitaan dan rasa sakit Micky. Mereka bersatu untuk memanfaatkan Micky. Ini adalah penekanan dari penampilan Bale dan Leo. Walaupun berada di sudut Micky saat pertarungan, mereka bukanlah tim yang baik untuk Micky.
Sang ibu dan Dicky adalah tokoh antagonis di film ini dan bukanlah para petinju yang menjadi lawan Micky. Jadi wajar jika Bale dan Leo seharusnya menampilkan sosok monster yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Leo kehilangan aura kesungguhan dan hanya menampilkan karakter bom seks yang bisa bertahan di dunia laki-laki. Bale menyuguhkan penampilan yang cantik. Dengan menurunkan 30 pounds berat badannya, dia menampilkan Dicky yang merasa dirinya adalah jagoan penguasa lingkungan. Penampilan apik Bale datang dari observasi yang baik serta ketepatan secara fisik dan psikologis.
Sepanjang film, hanya 1 orang yang mendukung Micky. Dia adalah sang kekasih Charlene (Amy Adams). Walaupun menyenangkan, peran ini tidak memberi kesempatan bagi Adams untuk tampil menonjol.
Wahlberg menampilkan karakter yang membuat kita peduli padanya dan bertanya-tanya,"Apakah dia akan menjadi laki-laki sejati dan menegaskan sikapnya?" Sebaliknya, kita tidak akan bertanya,"Akankah dia menjadi juara?" karena memang pertanyaan ini menjadi tidak penting. Adalah usahanya untuk menjadi pria mandiri dan lepas dari kungkungan ibunya dan Dicky, dan bukannya pertarungan di ring yang menjadi highlight The Fighter.
Pada titik inilah, film menjadi tidak jujur. Skenario film berdasar kehidupan nyata sebaiknya berdasar pada fakta yang benar-benar terjadi. Tetapi, The Fighter mengkhianati anggapan ini dengan melakukan interpretasi yang didesain untuk menyenangkan orang-orang yang dipotret di film ini. Akibatnya, ada perpindahan fokus cerita dari karakter Micky ke karirnya sebagai petinju, lalu seolah-seolah The Fighter bercerita tentang perjalanan karir Micky semata. Perpindahan ini fokus ini cukup membuat kita mengernyitkan kening.
Sutradara : David O. Russell
Skenario : Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson
Pemain : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Tetapi, ada sisi yang "tidak jujur" di film ini. Micky Ward adalah petarung tangguh di ring tetapi, di luar ring, dia adalah sosok yang pasif dan tidak berdaya melawan pengaruh ibunya yang juga manajernya (Melissa Leo) dan saudara laki-lakinya, Dicky (Christian Bale) yang juga pelatihnya. Keduanya bisa dibilang tidak berguna bagi Micky. Ibunya tidak punya ketajaman bisnis yang bisa membawanya ke pertarungan besar sementara Dicky adalah pecandu narkotik yang tidak bisa diandalkan bahkan untuk hal-hal kecil.
Ibu dan Dicky adalah benalu, mereka hidup dari penderitaan dan rasa sakit Micky. Mereka bersatu untuk memanfaatkan Micky. Ini adalah penekanan dari penampilan Bale dan Leo. Walaupun berada di sudut Micky saat pertarungan, mereka bukanlah tim yang baik untuk Micky.
Sang ibu dan Dicky adalah tokoh antagonis di film ini dan bukanlah para petinju yang menjadi lawan Micky. Jadi wajar jika Bale dan Leo seharusnya menampilkan sosok monster yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Leo kehilangan aura kesungguhan dan hanya menampilkan karakter bom seks yang bisa bertahan di dunia laki-laki. Bale menyuguhkan penampilan yang cantik. Dengan menurunkan 30 pounds berat badannya, dia menampilkan Dicky yang merasa dirinya adalah jagoan penguasa lingkungan. Penampilan apik Bale datang dari observasi yang baik serta ketepatan secara fisik dan psikologis.
Sepanjang film, hanya 1 orang yang mendukung Micky. Dia adalah sang kekasih Charlene (Amy Adams). Walaupun menyenangkan, peran ini tidak memberi kesempatan bagi Adams untuk tampil menonjol.
Wahlberg menampilkan karakter yang membuat kita peduli padanya dan bertanya-tanya,"Apakah dia akan menjadi laki-laki sejati dan menegaskan sikapnya?" Sebaliknya, kita tidak akan bertanya,"Akankah dia menjadi juara?" karena memang pertanyaan ini menjadi tidak penting. Adalah usahanya untuk menjadi pria mandiri dan lepas dari kungkungan ibunya dan Dicky, dan bukannya pertarungan di ring yang menjadi highlight The Fighter.
Pada titik inilah, film menjadi tidak jujur. Skenario film berdasar kehidupan nyata sebaiknya berdasar pada fakta yang benar-benar terjadi. Tetapi, The Fighter mengkhianati anggapan ini dengan melakukan interpretasi yang didesain untuk menyenangkan orang-orang yang dipotret di film ini. Akibatnya, ada perpindahan fokus cerita dari karakter Micky ke karirnya sebagai petinju, lalu seolah-seolah The Fighter bercerita tentang perjalanan karir Micky semata. Perpindahan ini fokus ini cukup membuat kita mengernyitkan kening.
Sutradara : David O. Russell
Skenario : Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson
Pemain : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Resensi × Resensi Film
Pertempuran antara kekuatan baik dan jahat berkembang menjadi perang
habis-habisan saat Harry Potter (Daniel Radcliffe) meneruskan usahanya
untuk mencari Horcrux yang merupakan kunci untuk mengalahkan Voldemort
(Ralph Fiennes). Bersama Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson),
Harry menemukan legenda Deathly Hallows.
Bab terakhir serial Harry Potter, sekali lagi, menonjolkan efek yang kaya dan padat sehingga agak mengalahkan narasinya. Mereka yang belum membaca novelnya mungkin agak kebingungan mengikuti cerita film ini walaupun terlihat jelas bahwa film ini memang "diperuntukkan" bagi para fans fanatik Harry Potte yang pasti sudah hafal dengan segala lekuk liku cerita ini sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.
Cerita dimulai dengan berlanjutnya pencarian Horcrux yang tersisa oleh Harry, Ron, dan Hermione untuk bisa mengalahkan Voldermort. Adegan awal saat mereka berkelana di saat-saat genting melalui jurang terjal adalah momen emas di film ini. Makhluk-makhluk seperti goblin atau ular piton yang merayap mencari daging manusia tampil mengagumkan (walau mungkin juga menyeramkan bagi beberapa orang).
Mungkin kelemahan terbesar dalam Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 adalah interaksi antara karakter-karakter kunci terlalu sedikit diperlihatkan; film ini "hanya" mengandalkan ultimate duel antara Harry dan Voldermort. Ralph Fiennes sukses menghadirkan sosok villain yang berkarakter kuat, Voldermort yang menakutkan dengan wajah tak berhidung nan menjijikkan. Alan Rickman menggunakan waktunya di screen sebagai Profesor Snape dengan sangat baik dan memorable, sementara Maggie Smith tampil dalam form yang baik. Ada juga bumbu romansa, dengan ciuman antiklimaks antara Ron dan Hermione yang nampaknya sudah usai sebelum dimulai.
Banyak sekali ide yang berlompatan ke arah kita yang seringkali bercampur aduk dalam plot yang ramai yang sedikit mengabaikan sentuhan emosional. Bagaimanapun, para penggemar fanatik pasti puas menyaksikan Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 sementara JK Rowling bertambah kaya, tentu saja......
Sutradara : David Yates
Pemain : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Alan Rickman
Resensi × Resensi Film
Hidup dan mati duduk berdampingan dalam kisah tentang survival di tengah
alam liar yang beku, di mana auman serigala ganas menggema di seluruh
tempat. Dengan mengambil gambar di tengah alam liar British Columbia, The Grey mengambil setting keras dan dingin yang menjadi kunci dalam menghadirkan suasana bertahan hidup di alam liar.
Setting yang ada dengan sendirinya menghadirkan nuansa yang memang diinginkan oleh film besutan Joe Carnahan ini, tak ada yang berkilauan di sini. Penampilan kuat dari Liam Neeson menjadi fokus sentral yang pasti menarik perhatian penonton. Dia adalah kompas kita saat kita mencoba menikmati teror yang ada, isolasi, konflik, harapan, dan berbagai halangan untuk bertahan hidup.Ottway (Neeson) adalah seorang pria yang kesakitan yang - dengan suara penuh keputusasaan - mencoba mendeskripsikan hidupnya di sebuah oil rig dan perannya dalam melindungi orang-orang yang bekerja di sana dengan cara menembaki serigala pengganggu. Dia memandang rendah para pekerja oil rig itu dan dia juga memandang rendah dirinya sendiri, merasa dirinya tidak pantas untuk menjadi bagian dari umat manusia. Ottway sudah siap untuk mengakhiri hidupnya yang menyedihkan tetapi sesuatu menghentikan niatnya itu.
Sebagian besar film ini bersifat "physical" - orang-orang berjalan di timbunan salju setinggi lutut dan mencoba menembus badai salju di tengah teritori serigala predator. Akhirnya sebuah ironi natural terjadi saat yang diburu menjadi predator dan sebaliknya.
Tidak semuanya bertahan hidup. Ada beberapa konflik dan gejolak, juga percakapan-percakapan yang sangat berarti saat orang-orang itu berbagi sedikit tentang diri mereka dan bercerita tentang special people dalam hidup mereka. Kita juga menjadi lebih akrab dengan sosok Ottway dan kunci dari semua masalah terungkap tepat saat film hampir berakhir.
Petualangan, kisah survival dan drama psikologis, The Grey membawa kita ke dalam sebuah dunia keras di antara hidup dan mati. Kecantikan lanskap dengan pohon-pohon tertutup salju adalah sebuah kontradiksi dengan teror dan perjuangan berat yang terjadi. Ilustrasi musik digunakan seperlunya dalam porsi yang tepat dan efek yang digunakan sangat hebat. Situasi kontras antara alam liar dan keindahan tersaji secara imbang dan sempurna.
well, siapa pun akan menyukai film ini. Permainan Neeson yang cemerlang, gambar-gambar yang menarik akan membuat anda lupa akan waktu yang berlalu..
Sutradara: Joe Carnahan
Penulis: Joe Carnahan, Ian Mackenzie Jeffers
Pemain: Liam Neeson, Dermot Mulroney, Frank Grillo
Setting yang ada dengan sendirinya menghadirkan nuansa yang memang diinginkan oleh film besutan Joe Carnahan ini, tak ada yang berkilauan di sini. Penampilan kuat dari Liam Neeson menjadi fokus sentral yang pasti menarik perhatian penonton. Dia adalah kompas kita saat kita mencoba menikmati teror yang ada, isolasi, konflik, harapan, dan berbagai halangan untuk bertahan hidup.Ottway (Neeson) adalah seorang pria yang kesakitan yang - dengan suara penuh keputusasaan - mencoba mendeskripsikan hidupnya di sebuah oil rig dan perannya dalam melindungi orang-orang yang bekerja di sana dengan cara menembaki serigala pengganggu. Dia memandang rendah para pekerja oil rig itu dan dia juga memandang rendah dirinya sendiri, merasa dirinya tidak pantas untuk menjadi bagian dari umat manusia. Ottway sudah siap untuk mengakhiri hidupnya yang menyedihkan tetapi sesuatu menghentikan niatnya itu.
Sebagian besar film ini bersifat "physical" - orang-orang berjalan di timbunan salju setinggi lutut dan mencoba menembus badai salju di tengah teritori serigala predator. Akhirnya sebuah ironi natural terjadi saat yang diburu menjadi predator dan sebaliknya.
Tidak semuanya bertahan hidup. Ada beberapa konflik dan gejolak, juga percakapan-percakapan yang sangat berarti saat orang-orang itu berbagi sedikit tentang diri mereka dan bercerita tentang special people dalam hidup mereka. Kita juga menjadi lebih akrab dengan sosok Ottway dan kunci dari semua masalah terungkap tepat saat film hampir berakhir.
Petualangan, kisah survival dan drama psikologis, The Grey membawa kita ke dalam sebuah dunia keras di antara hidup dan mati. Kecantikan lanskap dengan pohon-pohon tertutup salju adalah sebuah kontradiksi dengan teror dan perjuangan berat yang terjadi. Ilustrasi musik digunakan seperlunya dalam porsi yang tepat dan efek yang digunakan sangat hebat. Situasi kontras antara alam liar dan keindahan tersaji secara imbang dan sempurna.
well, siapa pun akan menyukai film ini. Permainan Neeson yang cemerlang, gambar-gambar yang menarik akan membuat anda lupa akan waktu yang berlalu..
Sutradara: Joe Carnahan
Penulis: Joe Carnahan, Ian Mackenzie Jeffers
Pemain: Liam Neeson, Dermot Mulroney, Frank Grillo
Sumber: http://resensifilmbagus.blogspot.com/2012/02/grey-teror-dan-keindahan.html
Resensi Film × sriwijava

Hai sahabat Tifa, aku mau share film indie nih, yah sejenis short movie gitu, karya teman ane. Film ini karya anak SMA N 5 Purworejo,yang terinspirasi akan film-film action di layar lebar sob. Film ini berkisah tentang percintaan, kecemburuan, dan perselisihan. Pastinya bakal seru. Ya ada film-film lain juga produksi kami sob, cuma ane terkesan sama film ini. Ya maksudnya terkesan mau bikin film yang lebih bagus and so pasti lebih keren nantinya. Film yang digadang oleh Aktor dan Aktris yang kurang ternama tapi cukup mahir ini sangat membuat decak kagum para penonton, (sedikit ngelawak), hahaha. Aktor dan Aktris itu adalah:

Dan Aktor-Aktor Pembantunya Seperti
Ini Cuplikan Filmnya
Dan berikut CREW Filmnya
Sutradara : Dony Setiawan
Ide Cerita : Resyan Ma'ruf Hidayat
Editor : Gumawang Pandu Wiguna
Martial Arts Coreographer :Ganang Dwi Hadmodjo : Resyan Ma'ruf Hidayat
Editor : Gumawang Pandu Wiguna
Martial Arts Coreographer :Ganang Dwi Hadmodjo : Resyan Ma'ruf Hidayat
Sekian ulasan Short Movie dari saya, trimakasih atas perhatian dan kunjungannya :D






